WARUNG CANGKRUK

July 4, 2008

BAHASA INGGRIS DAN INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN DI DEPARTEMEN KELAUTAN PERIKANAN

Filed under: THOLABUL ILMI — Didik AS @ 9:09 am

BAHASA INGGRIS DAN INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN DI DEPARTEMEN KELAUTAN PERIKANAN

(Sebuah Wacana Menuju International Standard Education System)

Oleh : Didik Agus Suwarsono


English as international language has important role, such as a provide the link and conjunction which connect us with other community in the world. In education english is one of the parameter of International Standard Education System and competence which presented the quality of education in a country.

Keywords : English, Role, Competence, ISES, English Learning

BACKGROUND

Bahasa memiliki peran (role) yang sangat besar dalam kehidupan manusia, sebagai salah satu unsur kebudayaan bahasa merupakan provide the link between idea and realization atau mata rantai yang menghubungkan antara gagasan dan kenyataan. Peran inilah yang menjadikan bahasa menjadi strategis dalam suatu proses komunikasi, terlepas dari ragam, bentuk maupun dimensi penggunaannya (termasuk di bidang pendidikan). Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional (International Language) adalah merupakan instrumen dasar (basic instrumen) yang menjadi prasyarat, tuntutan dan kebutuhan di era globalisasi. Penguasaan terhadap bahasa inggris merupakan tolok ukur (parameter) dan salah satu elemen kompetensi dalam International Standard Education System.

Departemen Kelautan dan Perikanan sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan sudah seyogyanya menata diri. Kompetensi yang berkualitas (baca : berstandard internasional) tidak muncul dengan sendirinya tetapi melalui suatu mekanisme dan tahapan yang terencana dengan suatu sinergi ideal aspek input, process dan output dalam sebuah kinerja sistem yang integral. Hal ini sebagai manifestasi dan reaksi balik (reversible reaction) terhadap tantangan (challenge) yang muncul di bidang perikanan di masa depan sebab pendidikan harus mampu menjawab itu (response).

PEMBAHASAN

Kompetensi

Berbeda dengan paradigma kurikulum sebelumnya yang lebih berorientasi keilmuan atau tahu apa (filosofis epistemologis), paradigma Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) lebih menonjolkan aspek aksiologis dalam arti berbasis kompetensi (bisa apa) sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat (Swara Ditpertais, 2004).

Hal diatas jelas mengacu kepada UNESCO yang memandang pendidikan sepanjang hayat sebagai bangunan yang ditopang oleh empat pilar : (1) kemampuan penguasaan ilmu dan ketrampilan (know how and know why), (2) kemampuan berkarya (know to do), (3) kemampuan mengambil sikap dan berperilaku dalam berkarya sehingga dapat mandiri, menilai, dan mengambil keputusan secara bertanggungjawab (to be), (4) dapat hidup bermasyarakat dengan bekerjasama, saling menghormati, dan menghargai nilai-nilai pluralisme dan perdamaian (to live together).

Wacana diatas menempatkan bahasa (baca : bahasa inggris) menjadi salah satu instrument dasar (basic instrument) yang menjadi tuntutan global dalam dunia pendidikan dan pengajaran dari aspek aksiologis, serta berorientasi pada penyiapan (prepare) lulusan yang mampu bersaing di era globalisasi. Sebab bahasa ibarat suatu piranti lunak (software) yang menghubungkan antara manusia (brainware) dengan perangkat keras (hardware) guna mengoperasikan suatu system kerja.

Pembelajaran Bahasa Inggris (English Learning):

Dalam membicarakan pengajaran dan pembelajaran bahasa, lingkungan, dalam pengertian “everything the language learner hears and sees in the new language,” (Dulay, Burt, dan Krashen, 1982:13), merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kaitan dengan keberhasilan pembelajaran bahasa itu. Faktor lingkungan makro meliputi (1) kealamiahan bahasa yang didengar; (2) peranan si pembelajar dalam komunikasi; (3) ketersediaan rujukan konkret untuk menjelaskan makna; dan (4) siapa model bahasa sasaran (Dulay, Burt dan Krashen, 1982:14). Sedangkan faktor lingkungan mikro mencakup (1) kemenonjolan (salience), yaitu mudahnya suatu struktur untuk dilihat atau didengar; (2) umpan balik, yaitu tanggapan pendengar atau pembaca terhadap tuturan atau tulisan si pembelajar; dan (3) frekuensi, yaitu seringnya si pembelajar mendengar atau melihat struktur tertentu (Dulay, Burt, dan Krashen, 1982:32).

Secara khusus, Faktor lingkungan mikro yang ketiga, frekuensi yang diasumsikan sebagai faktor paling berpengaruh terhadap pemerolehan bahasa. Makin banyak si pembelajar mendengar suatu struktur, makin cepat proses pemerolehan struktur itu. (Dulay, Burt, Krashen, 1982:32—37).

Pakar pembelajaran Bahasa Inggris, H. Douglas Brown mengemukan lima prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif berikut ini.:

1. Way of life

Jika kita belajar bahasa Inggris di negeri tempat bahasa tersebut digunakan sebagai Bahasa Ibu (mother language), umumnya kita akan lebih cepat menguasai bahasa tersebut karena kita setiap hari dikelilingi oleh bahasa Inggris, dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur. Hal ini disebabkan karena bahasa Inggris telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita.

Demikian pula yang harus kita lakukan di Indonesia, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan efektif: kita harus menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kehidupan kita (a part of our life). Artinya, kita harus mencoba menggunakannya setiap hari di mana mungkin. Untuk itu, kita bisa membaca, mendengar, ataupun berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada setiap kesempatan yang kita temui atau yang bisa kita ciptakan.

Misalnya, kita bisa menyisihkan waktu tiap hari untuk baca satu artikel bahasa Inggris dalam satu hari. Kalau satu artikel belum mampu, satu paragraf atau satu kalimat per hari pun tidak jadi masalah. Kita jadikan kalimat tersebut kalimat kita hari itu, dan kita gunakan kalimat tersebut dalam segala kesempatan yang mungkin ada dalam hari itu. Atau, kita bisa juga meluangkan waktu untuk mendengarkan segala sesuatu dalam bahasa Inggris (lagu, berita, atau kaset-kaset berisi pembicaraan dalam bahasa Inggris) untuk membiasakan telinga kita terhadap bahasa asing tersebut. Yang bisa kita lakukan antara lain adalah mendengarkan kaset-kaset (baik lagu, pidato, presentasi, atau kaset pembelajaran dalam bahasa Inggris) di mobil sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya. Kita juga bisa mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris (menulis memo, surat pendek, ataupun menulis rencana kerja yang akan kita lakukan selama seminggu atau untuk hari berikutnya). Pada prinsipnya, kelilingi hidup kita dengan bahasa Inggris yang topik-topiknya kita senangi atau kita butuhkan.

2. Total commitment

Untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita, kita harus memiliki komitmen untuk melibatkan bahasa Inggris dalam hidup kita secara fisik, secara mental, dan secara emosional.

Secara fisik, kita bisa mencoba mendengar, membaca, menulis, dan melatih pengucapan dalam bahasa Inggris, terus-menerus dan berulang-ulang. Secara mental atau intelektual, kita bisa mencoba berpikir dalam bahasa Inggris setiap kali kita menggunakan bahasa Inggris. Misalnya, dalam memahami bahasa Inggris, jangan kata per kata, tapi arti secara keseluruhan. Kita bisa mencoba mengenali beberapa ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti yang kurang lebih sama, misalnya: How’re you?, How’s life?, How’s business? (jangan terpaku pada satu ungkapan saja).

Dan, yang paling penting adalah keterlibatan kita secara emosional dengan bahasa Inggris, yaitu kita perlu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar bahasa Inggris, dan kita perlu mencari ”hal-hal positif” yang bisa kita nikmati, ataupun yang bisa memberikan kita keuntungan jika kita mampu menguasai bahasa Inggris.

Hal-hal ini akan memberikan energi yang luar biasa pada kita untuk tetap bersemangat belajar bahasa Inggris. Ketiga aspek (fisik, mental, dan emosional) ini harus kita libatkan secara total dalam proses belajar kita, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan lebih efektif.

3. Trying

Belajar bahasa adalah seperti belajar naik sepeda atau belajar menyetir mobil. Kita tidak bisa hanya membaca dan memahami ”buku manual” saja, tetapi kita harus mencoba menggunakannya.

Pada tahap pembelajaran (tahap percobaan), sangat wajar jika kita melakukan kesalahan. Yang penting adalah mengetahui kesalahan yang kita lakukan dan memperbaikinya di kesempatan yang berikutnya. Akan lebih baik lagi jika pada saat mencoba kita mempunyai guru yang bisa memberitahu kita kesalahan yang kita lakukan. Guru tidak harus guru formal di sekolah atau kursus bahasa Inggris. Guru bisa saja sebuah kaset yang bisa kita dengarkan dan kita bandingkan dengan ucapan kita, sebuah buku pelajaran yang bisa kita baca dan cek jawabannya, atau bisa juga kenalan, ataupun kerabat yang bisa membantu kita jika kita ada masalah atau ada hal-hal yang ingin kita tanyakan. Kita tidak usah malu bertanya, dan tidak usah takut melakukan kesalahan. Dari pertanyaan yang kita ajukan dan dari kesalahan yang kita lakukan, kita bisa belajar banyak.

4. Beyond class activities

Jika kita belajar bahasa Inggris secara formal (di kelas, di kursus), biasanya jam-jam belajarnya terbatas: empat jam seminggu, enam jam seminggu ataupun delapan jam seminggu. Yang pasti jam belajar di kelas ini tentunya sangat terbatas. Agar belajar bisa lebih efektif, kita harus menciptakan kesempatan untuk ”belajar” juga di luar jam-jam belajar di kelas: berdiskusi dengan teman, mengunjungi websites yang menawarkan pembelajaran bahasa Inggris gratis, ataupun berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan teman-teman atau native speakers (baik melalui surat, email, ataupun percakapan langsung). Kita bisa juga mencoba membaca koran, majalah, buku-buku teks, mendengarkan radio, lagu, ataupun menonton acara-acara dan film. Agar proses belajar bisa lebih menarik, pilihlah topik-topik yang sesuai dengan minat kita, kebutuhan kita, ataupun yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang kita tekuni.

5. Strategies

Jika komitmen, keberanian mencoba, dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian hidup telah kita terapkan, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi belajar yang tepat untuk menunjang proses belajar kita. Strategi ini bisa kita kembangkan dan kita sesuaikan dengan kepribadian dan gaya belajar kita masing-masing.

Ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan ”cue-cards”, yaitu kartu-kartu kecil yang bertuliskan ungkapan atau kata-kata yang ingin kita kuasai disertai dengan contoh kalimat yang bisa menggunakan kata-kata tersebut. Kartu ini bisa kita bawa kemana pun kita pergi. Kapan pun ada kesempatan (pada saat menunggu taksi, menunggu makan siang disajikan, ataupun pada saat berada dalam kendaran yang sedang terjebak kemacetan), kita bisa mengambil kartu ini dan membacanya serta mencoba melakukan improvisasi dengan kata-kata baru dalam struktur kalimat yang sama. Ada pula orang yang lebih mudah belajar dengan langsung berkomunikasi lisan dengan orang lain atau native speakers. Dari komunikasi ini mereka bertanya, mendengar, dan memperbaiki ucapan dan meningkatkan kosa kata mereka dengan gaya belajar kita

Gaya Belajar

Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing.

1. Auditory learners

Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi, ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya.

2. Visual learners

Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar ”visual”. Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. Kita bisa juga membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering kita temui dalam melakukan pekerjaan kita. Untuk mencoba memahami suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual: ”flow chart”, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya.

3. Kinesthetic learners

Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse), sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut.
Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar (misalnya auditory dan visual, atau visual dan kinesthetic). Apa pun gaya belajar kita, jika kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa penguasaan bahasa inggris menjadi salah satu instrumen penting bagi peningkatan kompetensi pendidikan dan peningkatan standar mutu pendidikan.. Oleh sebab itu peningkatan kemampuan berbahasa inggris bagi penyelenggara pendidikan (Dosen dan Taruna) menjadi tuntutan yang harus bisa dipenuhi agar sistem pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang profesional, memilki kompetensi internasional, dan siap bersaing di pasar global.

DAFTAR PUSTAKA

Dulay, H, M Burt, dan Krashen, S. 1982. Language Two. New York : Oxford Univerity

Press dalam Makalah Prof. Dr. Fuad Adbul Hamied, M.A : BIPA, Isu danRealita

Sandra Sembel,. Education for Professionals. edpro@cbn.net.id

Swara Ditpertais: No. 18 Th. II, 30 Oktober 2004. Perjalanan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) : Yogyakarta

Older Posts »

Theme: Silver is the New Black. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.