<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>WARUNG CANGKRUK</title>
	<atom:link href="http://warungmasdidik.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warungmasdidik.wordpress.com</link>
	<description>ADA KOPI TUBRUK &#38; PISANG GORENG........</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Jul 2008 02:25:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='warungmasdidik.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e6c69f2a7a298b8f8e7e3198c0a345d1?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>WARUNG CANGKRUK</title>
		<link>http://warungmasdidik.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>ILIR ILIR</title>
		<link>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/05/ilir-ilir/</link>
		<comments>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/05/ilir-ilir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 02:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didik AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[JAJANAN JAWA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungmasdidik.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[ILIR ILIR
(Ngaji Nasionalisme Kepada Sunan Ampel)
Oleh : Didik Agus Suwarsono
 
Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh
Bisakah kekecewaan bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis
Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam
Akankah api akan berkobar-kobar lagi 
Apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungmasdidik.wordpress.com&blog=4139660&post=33&subd=warungmasdidik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>ILIR ILIR</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>(Ngaji Nasionalisme Kepada Sunan Ampel)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>Oleh : Didik Agus Suwarsono</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bisakah kekecewaan bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Akankah api akan berkobar-kobar<span> </span>lagi </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Apakah asap akan membumbung lagi dan memenuhi angkasa<span> </span>tanah air</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa yang sesungguhnya yang kita cari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pernahkah kita mencoba menyesali </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hal-hal yang barang kali perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian di balik kebanggaan-kebanggaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk berkata pada diri kita sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia tetapi juga kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Masih tersediakah peluang di dalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mencari hal-hal yang kita benar-benar butuhkan agar supaya sakit (3x) kita ini benar-benar sembuh total</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomer satu bukan yang diluar diri kita tetapi di dalam diri kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Yang kita perlu utama lakukan adalah penyembuhan diri, yang kita yakini bahwa harus betul – betul disembuhkan itu justru adalah segala sesuatu yang berlaku dalam hati dan akal fikiran kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Saya ingin mengajak engkau semua untuk memasuki dalam dunia ilir-ilir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span>Lir ilir lir ilir tandure wes sumuilir tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar :</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Kanjeng Sunan Ampel<span> </span>seakan-akan baru hari ini bertutur pada kita tentang kita. Tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri namun tak kunjung kita sanggup untuk mengerti. Sejak lima abad yang silam syair itu telah ia lantunkan dan tak ada jaminan kita telah paham. Padahal kata-kata beliau itu mengeja kehidupan kita sendiri alfa, beta, alif, ba’, tha’ kebingungan sejarah kita dari hari ke hari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya terletak pada ketidak sanggupan para<span> </span>penghuninya untuk megakui betapa kerusakan itu sudah tidak terperi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Menggeliatlah dari matimu tutur sang sunan, siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu sungguh negeri ini adalah penggalan sorga. Sorga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia raya. Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan. Tidak mungkin kau temukan makhluk tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulaan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai negeri-negri lain yang manapun. Tapi kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini kita telah memboroskan anugerah tuhan ini melalui cocok tanam ketidak adilan dan panen-panen kerakusan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span>Cah angon – cah angon penekno blimbing kuwih lunyu-lunyu penekno kanggo mbasoh dodotiro :</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Kanjeng sunan tidak memilih figur misalnya pak jendral, juga bukan intelektual-intelektual, ulama-ulama, sastrawan-sastrawan atau senian-seniman atau apapun tapi cah angon (2x). Beliau juga menuturkan penekno blimbing kuwih, bukan penekno pelem kuwih, bukan penekno sawuh kuwih, juga bukan buah yang lain tetapi blimbing bergigir lima terserah apa tafsirmu mengenai lima yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu lunyu-lunyu penekno agar belimbing bisa kita capai bersama-sama. Dan yang harus memanjat adalah bocah angon anak gembala, tentu saja boleh siapa saja, ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kyai, boleh seorang jenderal atau siapapun. Tapi dia harus mempunyai daya angon, daya untuk menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong siapa pun, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis<span> </span>resultan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan dan semua kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan. Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini sang bocah angon harus memanjatnya harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya bukan ditebang, dirobohkan atau diperebutkan dan air sari pati belimbing lima gigir itu diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya berdirilah di depan pasar dan copotlah pakaianmu maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus<span> </span>kita cuci dengan pedoman lima</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span>Dodotiro – dodotiro kumitir bedah ing pinggir dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane yo sura’o-sura’ iyo</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalime kita, telah sobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore, harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan. Memang kita sudah lir-ilir, sudah ngelilir sudah terbangun dari tidur, sudah bangun, sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau bahkan mungkin lebih lama dari itu. Kita memang sudah bangkit beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi<span> </span>jalanan, membanjiri sejarah dengan semangat menyeruak kemerdekaan yang telalu lama diidamkan. Akan tetapi mungkin karena terlalu lama kita tidak merdeka sekarang kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan sehingga tidak begitu paham beda antara demokasi dan anarki. Terlalu lama kita tidak boleh berfikir lantas sekarang hasil fikiran kita keliru-keliru sehingga tak sanggup membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang mana nasi dan mana tinja. Terlalu lama kita hidup dalam ketidak menentuan nilai lantas menjadi semakin kabur pandangan kita akan nilai-nilai yang berlaku dalam diri kita sendiri<span> </span>sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri. Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan sehingga kita tidak mengerti melayani cahaya sehingga kita tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang sehingga dalam kegelapan gerhana rembulan yang membikin kita buntu sekarang kita junjung-junjung pengkhianat dan kita buang para pahlawan. Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita. Matahari berada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai karena ditutupi oleh bumi sehingga bulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi. Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para keasih Allah, para nabi, para rasul, para ulama, para cerdik-cendikia, para pujangga dan siapapun saja yang memantulan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas. Orang menyangka kepala adalah kaki, orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Ilir-ilir, kita memang sudah ngelilir, sudah bangkit, sudah bangun bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari namun akal fikiran kita belum, <strong>hati nurani kita belum</strong>, kita masih merupakan anak dari orde-orde yang kita kutuk di mulut namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup di dalam darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik, kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berusaha untuk menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara syetan yakni dengan cara melarangnya untuk insyaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara meggusur. Kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana cara iblis yakni kita halangi untuk memperbaiki diri. Siapakah selain iblis, syetan dan dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia yang memblokade pintu surga, yang menyorong mereka ke pintu neraka. Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas.<span> </span>Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah diancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan-kebersamaan melainkan asyiknya perpecahan. Yang<span> </span>kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan parasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka melainkan rencana-rencana panjang untuk<span> </span>menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan untuk memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri. Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang akan mempergelap cahaya matahari sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya. Atau kita akan berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat agar kita bisa apatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itukembali ke bumi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan 1000 jilid buku. Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan 1000 bulan dan seribu orang melakukannya. Aku ingin mengajakmu untuk<span> </span>berkeliling utuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing. Agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita, apa muatan kalbu mereka mengenai lir-ilir, mengenai ijo royo-royo, mengenai tementen anyar,<span> </span>mengenai bocah angon dan belimbing, mengenai mbasuh dodotiro dan mengenai gumitir bedah ing pinggir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Yang akan kita bicarakan tentu saja kapan saja bersama-sama.tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan siapa saja diantara sauara-saudara kita tanpa perlu kita larang-larang untuk menjadi ini-untuk menjadi itu. Asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua kita akan menyumbangkan yang terbaik untuk semuanya bukan hanya bagi ini-bagi itu bukan hanya bagi yang disini atau yang disana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>(Cak Nun) </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/warungmasdidik.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/warungmasdidik.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungmasdidik.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungmasdidik.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungmasdidik.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungmasdidik.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungmasdidik.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungmasdidik.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungmasdidik.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungmasdidik.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungmasdidik.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungmasdidik.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungmasdidik.wordpress.com&blog=4139660&post=33&subd=warungmasdidik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/05/ilir-ilir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c54b740357e6f7d4c7716e3b0f3b9356?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Didik-AS</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBUMIKAN FIGHTING SPIRIT  BUNG KARNO – OM SAM DI TENGAH MONDIALISASI GLOBAL</title>
		<link>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/05/membumikan-fighting-spirit-bung-karno-%e2%80%93-om-sam-di-tengah-mondialisasi-global-urgensi-nation-character-building-di-tengah-surutnya-rasa-nasionalisme/</link>
		<comments>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/05/membumikan-fighting-spirit-bung-karno-%e2%80%93-om-sam-di-tengah-mondialisasi-global-urgensi-nation-character-building-di-tengah-surutnya-rasa-nasionalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 01:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didik AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[PRIYAYI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungmasdidik.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[MEMBUMIKAN FIGHTING SPIRIT BUNG KARNO – OM SAM DI TENGAH MONDIALISASI GLOBAL 
(Urgensi Nation Character Building di Tengah Surutnya Rasa Nasionalisme)
Oleh : Didik Agus Suwarsono


 Ir. Soekarno dan Dr. Sam Ratulangi adalah dua ikon sejarah Indonesia yang bergerak dalam kesinergisan irama sejarah, keduanya menjadi warna sekaligus mewarnai  pergulatan panjang sejarah diantara proses transformasi fakta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungmasdidik.wordpress.com&blog=4139660&post=19&subd=warungmasdidik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong>MEMBUMIKAN <em>FIGHTING SPIRIT</em> BUNG KARNO – OM SAM DI TENGAH MONDIALISASI GLOBAL </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong>(Urgensi <em>Nation Character Building</em> di Tengah Surutnya Rasa Nasionalisme)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong>Oleh : Didik Agus Suwarsono</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> Ir. Soekarno dan Dr. Sam Ratulangi adalah dua ikon sejarah Indonesia yang bergerak dalam kesinergisan irama sejarah, keduanya menjadi warna sekaligus mewarnai <span> </span>pergulatan panjang sejarah diantara proses transformasi fakta yang terus terjadi, problematika yang tersisa, paradoks dan catatan hitam putihnya. Tanpa bermaksud mengecilkan peran tokoh yang lain Bung Karno dan Sam Ratulangi telah menempatkan dirinya menjadi <span> </span>mesin lokomotif yang mampu menggerakkan gerbong-gerbong kesadaran sejarah untuk melakukan <em>collective movement</em> menuju stasiun kemerdekaan <em>(freedom)</em> dan keadilan sosial <em>(social justice).</em> <em>The founding fathers</em> yang mampu memberikan bukan hanya kajian mendalam secara teoritis tetapi tampil dalam konteks praksis, mempertemukan teori dan realitas, mengawinkan antara buku dan bumi juga membangun sekat-sekat kesadaran diantara keterbatasan belenggu ruang. Barang kali inilah hal yang membuat kedua tokoh ini berada dalam kedudukan yang istimewa bagi masyarakat Indonesia baik pada tataran lokal maupun nasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Mungkin benar menurut pendapat Anis Matta (2003) bahwa kepahlawanan membutuhkan suatu momentum untuk meledak dan “waktu” lebih banyak menjadi <em>positive factor, </em>akan tetapi rasanya menjadi <em>the pioner of changing</em> tentu juga bukan suatu romantisme sejarah yang mudah tapi keduanya telah melewati fragmen-fragmen itu. Baik Soekarno maupun Sam Ratulangi telah hadir dan menjadi <em>integral part</em> dalam suatu dinamisasi sejarah perjuangan bangsa, yang waktu itu bukan hanya harus berkutat melawan penjajahan secara fisik tetapi lebih dari itu dibutuhkan sebuah upaya lebih keras dalam<em> nation and character building</em> melalui <em>intellectual force</em> untuk menisbihkan kebodohan dan ketertinggalan rakyat Indonesia saat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Soekarno hadir dengan suatu konsep perlawanan terhadap <em>imperialisme-kapitalisme</em> barat melalui sebuah faham yang dikenal dengan marhaenisme. Menurut Dr. Tadjuddin Noer Effendi, prinsip utama (asas) pemikiran Soekarno bersumber pada tuntutan hati nurani manusia. Dan, ini sudah ada sejak Soekarno muda. Dari awal berjuang, ia senantiasa menegaskan tuntutan revolusi rakyat Indonesia. Tidak hanya sekadar merdeka, tetapi lebih dari itu yakni memperjuangkan keadilan dan kebebasan sesuai dengan kodrat manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Asas perjuangan Bung Karno disusun berdasarkan realitas sosial bahwa tanpa melakukan perlawanan secara revolusioner terhadap feodalisme, kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme sangat tidak mungkin membebaskan anak manusia dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan penindasan manusia atas manusia serta penindasan bangsa atas bangsa. Pemikiran ini dijadikan konsep dasar dalam menentukan strategi dan arah perjuangan. Kemudian pada tahap ini Soekarno merumuskan pemikiran itu ke dalam asas Marhaenisme. Sedangkan menurut </span><span lang="IN">Prof Dr Djohar MS, asas marhaenisme sarat dengan nuansa untuk memperjuangkan keadilan, persamaan hak, dan memperjuangkan kepentingan kaum tertindas dengan upaya menghapuskan pemerasan dan mempersatukan semua golongan yang tertindas (marhaen). Mempersatukan kekuatan semua golongan yang tertindas, yang antikapitalis dan imperialis, tampaknya diletakkan sebagai pilar utama untuk mencapai masyarakat demokrasi ke arah pergaulan hidup sama rata, sama rasa, sama bahagia, yang disesuaikan dengan semangat dan jiwa rakyat Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Soekarno adalah geliat perlawanan yang seakan sulit untuk dipisahkan dari dinamika sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Elegenitasnya yang begitu progresif telah mampu membakar dan memprovokasi kesadaran berbangsa akan pentingnya menggagapai <em>puritan value</em> dari sebuah kebebasan dan kemerdekaan. Kita mungkin masih bisa merasakan itu dari rekaman pidato-pidato politiknya yang mengguncang nusantara. Terlepas dari hitam putih, paradoks dan reinterpretasi sejarah yang terus terjadi, dia adalah <em>putera sang fajar</em> yang mampu menguak tabir kelam kolonialisme yang telah mengekang bangsa ini hampir tiga setengah abad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Pada ruang yang lain <em>ritme spirit</em> yang sama berjalan dari Ranah Minahasa yang ditabuh dengan genderang intelektualitas oleh<span> </span>Dr. Sam Ratulangi.</span><span style="font-size:18pt;line-height:150%;" lang="IN"> </span><span lang="IN">Sebagai insan manusia Minahasa, Indonesia, yang membenarkan dan melaksanakan falsafah hidup Minahasanya, yaitu: <em>&#8220;Sitou timou tumou tou&#8221;</em> yang dapat diartikan sebagai &#8220;manusia lahir dan dibesarkan untuk memanusiakan manusia&#8221;. Itu juga yang mendorong beliau untuk terus mendedikasikan segala kemampuannya demi bangsa dan negaranya baik sebelum maupun sepulang dari Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Ia tampil dengan visi kebangsaan yang memandang bahwa suatu bangsa adalah muara integrasi dari pluralitas suku-suku bangsa yang beraneka ragam. </span><span lang="IN">Dalam sebuah artikel <em>berjudul &#8216;Christianity and Ethnicity in Indonesia; The Intelectual Biography of Sam Ratulangi&#8217;</em> yang dibawakan dalam sebuah simposium di Universitas Frankfurt pada bulan Desember 2003 oleh Gerry van Klinken dari KITVL di Leiden, Nederland; antara lain ia mengatakan bahwa pemikiran intelektual Nasionalisme Etnis Minahasa; Ratulangi memperolehnya dari penggalian budaya asli Minahasa yang ia hubungkan dengan falsafah semangat “Bushido” Jepang oleh Nitobe dan semangat falsafah “Kebenaran Pragmatis” Eropa<span> </span>oleh William James (1907). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Ratulangi menurut Gerry van Klinken (2003) sangat menekankan bahwa Nasionalisme Minahasa ada hubungan yang erat sekali dengan budaya asli Minahasa maupun agama Kristen yang datang ke Minahasa bersamaan dengan budaya modernisasi Eropa. Kekristenan dan budaya asli Minahasa sudah merupakan satu kesatuan yang membentuk Nasionalisme Etnis Minahasa. Dan Ratulangi dengan sangat cemerlang telah menguraikan pikirannya itu dalam berbagai pertemuan mahasiswa-mahasiswa jamannya di Nederland yang turut didengar pula oleh dua orang senior intelektual Ratulangi yaitu van Deventer dan Abendanon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Lebih lanjut menurut analisa Gerry van Klinken, Ratulangi sejak tahun 1922 sampai ia meninggal tahun 1949 sangat konsisten dengan pemikiran sistem federal untuk Republik Indonesia dimana nasionalisme Minahasa dapat terakomodir. Beliau juga sangat yakin bahwa nasionalisme Indonesia harus dibangun dari akarnya yakni, nasionalisme yang bertumbuh dari nasionalisme bangsa-bangsa etnis yang sangat plural yang mendiami seluruh kepulauan Nusantara. Ratulangi sangat yakin bahwa Indonesia Merdeka akan menjadi satu negara yang besar dan kokoh bila ia dibangun atas pondasi nasionalisme bangsa-bangsa etnis yang demokratis dengan identitas budayanya masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>“<em>Primordial positive” </em>yang jauh dari kesan <em>introvert </em>apalagi <em>eksklusif<span> </span></em>itulah yang menjadikannya sebagaimana Soekarno ternyata menjadi begitu membumi dengan wajah dan budaya lokal akan tetapi memancar cemerlang dalam aura yang global. Sebuah titik pandang yang sering dipahami sebagai <em>“</em></span><em><span lang="IN">a holistic approach to life</span></em><span lang="IN">”. </span><span>Keduanya boleh jadi adalah sebuah simbol elegan yang menasbihkan <em>fighting spirit</em> yang tak kenal lelah dalam proses perlawanan terhadap penjajahan dan keterbatasan. Untuk itu menjadi sebuah pertanyaan besar, mampukah semangat membaja itu tetap terwarisi dan dilanjutkan kepada generasi penerus ditengah infiltrasi besar-besaran globalisasi dan mondialisasi?. Jawabnya tak lain dan tak bukan, harus !!!.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Kalau kita mencermati kedua tokoh kharismatik ini maka sebenarnya ada beberapa persamaan mendasar baik dalam hal <em>destination oriented</em> perjuangan maupun <em>way out</em> yang ditempuh keduanya. <em>Pertama</em>, Bung Karno dan Sam Ratulangi membangun <em>nationalism <span> </span>spirit</em> diatas fondasi dan ruang kesadaran <em>(internalisasi)</em>. Dalam hal ini <em>sense of pride</em> dan <em>sense of<span> </span>belonging </em>atas kekayaan bangsa ini menjadi <em>keywords </em>dari muara pemahaman yang “penting” untuk dimiliki dan dibanggakan. Keduanya bahkan secara implisit menjelaskan bahwa untuk memiliki rasa cinta terhadap bangsa ini harus dimulai dari <span> </span><em>introduction process</em> terhadap kekayaan dan pluralitas yang dimiliki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span><em>Kedua</em>, pemimpin yang konsisten bergerak dalam <em>intelectual force</em> sebagai bentuk perlawanan atas pengkebiran terhadap ruang intelektual yang selama masa penjajahan sangat dikekang dan hanya bisa dinikmati segelintir kalangan (baca : kalangana priyayi). Keduanya adalah guru bangsa yang tak perlu diragukan lagi komitmennya terhadap budaya inteletual. Bahkan lebih dari itu baik Bung Karno melalui marhaenismenya dan Sam Ratulangi dengan falsafah<em> “</em></span><em><span lang="IN">Sitou timou tumou tou</span></em><em><span>”</span></em><span> bukan hanya bergerak dalam konsep tekstual tetapi benar-benar membumikan diri dengan praksis–aplikatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span><em>Ketiga</em>, kukuh dengan pendirian bahwa muara dari semua gerakan perjuangan yang dilakukan baik melalui konsistensi spirit perlawanan secara fisik maupun militensi gerakan <em>moral and intelectual force</em> adalah pada suatu terminal akhir<em> (the last destination)</em> yakni cita-cita nasional untuk mewujudkan Indonesia yang adil makmur, yang makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Inilah yang tampaknya mulai dilupakan oleh bangsa ini. Nuansa perpolitikan baik pada tatanan lokal maupun nasional lebih sarat akan konspirasi dan kepentingan sesaat sehingga melupakan tujuan awal. Konteks pemujaan terhadap kekuasaan lebih dominan sehingga kehilangan semangat pengabdian. Ini diperparah dengan semakin melunturnya semangat kebangsaan baik karena pengaruh internal yakni rongrongan terhadap wawasan kebangsaan dalam hal ini pancasila maupun karena pengaruh globalisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span><span> </span></span></em><span>Dalam konteks inilah penulis memandang adalah suatu keharusan untuk bangsa Indonesia belajar dari semangat sejarah <em>(the history spirit) </em>sebagaimana Bung Karno pernah menyampaikan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya”<em>. </em>Di tengah <span> </span>infiltrasi global<span> </span>dan mondialisasi yang tak terbendung dan terjadi di segala bidang kita tidak boleh begitu saja meninggalkan “jati diri” sebagai bangsa. <em>Nation character building</em>, rasanya merupakan sebuah spirit yang harus kembali ditanam dan dipompakan kepada generasi penerus bangsa. Salah satu cara untuk itu, adalah dengan menumbuh kembangkan kesadaran sejarah <em>(transform and develope history awareness). </em>Salah satunya adalah spirit juang Ir Soekarno dan Dr. Sam Ratulangi, harus dimaknai dan bukan hanya dihadirkan dalam retorika sejarah semata tapi membumi dan tertanam untuk kemudian mampu diimplementasikan dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Di akhir tulisan ini<span> </span>penulis ingin mengajak segenap komponen bangsa Indonesia yang akan merayakan HUT Kemerdekaan yang ke-63 untuk sejenak <em>flash back</em> ke belakang. Di tengah <em>euphoria </em>kebebasan yang telah kita dapatkan sekarang sesungguhnya ada sebuah perjalanan panjang penuh onak yang harus menjadi <em>napak tilas</em> sejarah yang tak boleh kita lupakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span><span> </span>Mari berbuat dan berkarya untuk bangsa dan negara sebagaimana s</span><span lang="IN">ebuah ungkapan kebangsaan John F. Kennedy, mendiang Presiden Amerika Serikat <strong><em>&#8220;…… Jangan tanya apa yang negara bisa berikan padamu, tetapi tanyakanlah pada dirimu sendiri tentang apa yang kau bisa berikan pada bangsa &amp; negaramu…..&#8221;</em></strong></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/warungmasdidik.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/warungmasdidik.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungmasdidik.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungmasdidik.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungmasdidik.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungmasdidik.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungmasdidik.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungmasdidik.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungmasdidik.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungmasdidik.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungmasdidik.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungmasdidik.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungmasdidik.wordpress.com&blog=4139660&post=19&subd=warungmasdidik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/05/membumikan-fighting-spirit-bung-karno-%e2%80%93-om-sam-di-tengah-mondialisasi-global-urgensi-nation-character-building-di-tengah-surutnya-rasa-nasionalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c54b740357e6f7d4c7716e3b0f3b9356?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Didik-AS</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAHASA  INGGRIS DAN INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN DI DEPARTEMEN KELAUTAN PERIKANAN</title>
		<link>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/04/6/</link>
		<comments>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/04/6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 09:09:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didik AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[THOLABUL ILMI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungmasdidik.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[BAHASA  INGGRIS DAN INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN DI DEPARTEMEN KELAUTAN PERIKANAN

(Sebuah Wacana Menuju International Standard Education System)
Oleh : Didik Agus Suwarsono






English as international language has important role, such as a provide the link and conjunction which connect us with other community in the world. In education english is one of the parameter of International Standard Education [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungmasdidik.wordpress.com&blog=4139660&post=6&subd=warungmasdidik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0 29.55pt 0.0001pt 27pt;"><strong>BAHASA  INGGRIS DAN INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN DI DEPARTEMEN KELAUTAN PERIKANAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0 29.55pt 0.0001pt 27pt;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;"><strong><span lang="IN">(Sebuah Wacana Menuju <em>International Standard Education System</em>)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;"><strong>Oleh : Didik Agus Suwarsono</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0 29.55pt 0.0001pt 27pt;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 29.55pt 0.0001pt 27pt;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 29.55pt 0.0001pt 27pt;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 29.55pt 0.0001pt 27pt;"><strong><em><span lang="IN">English as international language has important role, such as a provide the link and conjunction which connect us with other community in the world. In education english is one of the parameter of International Standard Education System and competence which presented the quality of education in a country. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 29.55pt 0.0001pt 27pt;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 29.55pt 0.0001pt 27pt;"><strong><em><span lang="IN">Keywords : English, Role, Competence, ISES, English Learning</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN">BACKGROUND</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN"><span> </span></span></strong><span lang="IN">Bahasa memiliki peran <em>(role)</em> yang sangat besar dalam kehidupan manusia, sebagai<span> </span>salah satu unsur kebudayaan bahasa merupakan <span> </span><em>provide the link between idea and realization </em>atau mata rantai yang menghubungkan antara gagasan dan kenyataan. Peran inilah yang menjadikan bahasa menjadi strategis dalam <span> </span>suatu proses komunikasi, terlepas dari ragam, bentuk maupun <span> </span>dimensi penggunaannya (termasuk di bidang pendidikan). Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional <em>(International Language</em>) adalah merupakan instrumen dasar <em>(basic instrumen)</em> yang menjadi prasyarat, tuntutan dan kebutuhan di era globalisasi. Penguasaan terhadap bahasa inggris merupakan tolok ukur (parameter) <span> </span>dan salah satu elemen kompetensi dalam International Standard Education System. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Departemen Kelautan dan Perikanan sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan sudah seyogyanya menata diri. Kompetensi yang berkualitas <em>(baca : berstandard internasional)</em> tidak muncul dengan sendirinya tetapi melalui suatu mekanisme dan tahapan yang terencana dengan suatu sinergi ideal aspek <em>input, process </em>dan<em> output</em> dalam sebuah kinerja sistem yang integral. Hal <span> </span>ini sebagai manifestasi dan reaksi balik <em>(reversible reaction)</em> terhadap tantangan <em>(challenge)</em> yang muncul di bidang perikanan di masa depan sebab pendidikan harus mampu menjawab itu <em>(response).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN">PEMBAHASAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Kompetensi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Berbeda dengan paradigma kurikulum sebelumnya yang lebih berorientasi keilmuan atau tahu apa <em>(filosofis epistemologis)</em>, paradigma Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) lebih menonjolkan <em>aspek aksiologis</em> dalam arti berbasis kompetensi <em>(bisa apa)</em> sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat (Swara Ditpertais, 2004).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Hal diatas jelas mengacu kepada UNESCO yang memandang pendidikan sepanjang hayat sebagai bangunan yang ditopang oleh empat pilar : (1) kemampuan penguasaan ilmu dan ketrampilan <em>(know how and know why)</em>, (2) kemampuan berkarya <em>(know to do)</em>, (3) kemampuan mengambil sikap dan berperilaku dalam berkarya sehingga dapat mandiri, menilai, dan mengambil keputusan secara bertanggungjawab <em>(to be)</em>, (4) dapat hidup bermasyarakat dengan bekerjasama, saling menghormati, dan menghargai nilai-nilai pluralisme dan perdamaian <em>(to live together)</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Wacana diatas menempatkan bahasa (baca : bahasa inggris) menjadi salah satu instrument dasar <em>(basic instrument)</em> yang menjadi tuntutan global dalam dunia pendidikan dan pengajaran dari aspek aksiologis, serta <span> </span>berorientasi pada penyiapan <em>(prepare)</em> lulusan yang mampu bersaing di era globalisasi. Sebab bahasa ibarat suatu piranti lunak <em>(software)</em> yang menghubungkan antara manusia <em>(brainware)</em> dengan perangkat keras <em>(hardware)</em> guna mengoperasikan suatu system kerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Pembelajaran Bahasa Inggris <em>(English Learning)</em>:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Dalam membicarakan pengajaran dan pembelajaran bahasa, lingkungan, dalam pengertian <em><strong>&#8220;everything the language learner hears and sees in the new language,&#8221;</strong> </em>(Dulay, Burt, dan Krashen, 1982:13), merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kaitan dengan keberhasilan pembelajaran bahasa itu. Faktor lingkungan makro meliputi (1) kealamiahan bahasa yang didengar; (2) peranan si pembelajar dalam komunikasi; (3) ketersediaan rujukan konkret untuk menjelaskan makna; dan (4) siapa model bahasa sasaran (Dulay, Burt dan Krashen, 1982:14). Sedangkan faktor lingkungan mikro mencakup (1) kemenonjolan (salience), yaitu mudahnya suatu struktur untuk dilihat atau didengar; (2) umpan balik, yaitu tanggapan pendengar atau pembaca terhadap tuturan atau tulisan si pembelajar; dan (3) frekuensi, yaitu seringnya si pembelajar mendengar atau melihat struktur tertentu (Dulay, Burt, dan Krashen, 1982:32). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span></span>Secara khusus, <span>Faktor lingkungan mikro yang ketiga, frekuensi yang diasumsikan sebagai faktor paling berpengaruh terhadap pemerolehan bahasa. Makin banyak si pembelajar mendengar suatu struktur, makin cepat proses pemerolehan struktur itu. (Dulay, Burt, Krashen, 1982:32—37).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span></span><span style="color:black;">Pakar pembelajaran Bahasa Inggris, <strong>H. Douglas Brown</strong> mengemukan lima prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif berikut ini.:</span></p>
<p><strong><span style="color:black;">1. Way of life</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Jika kita belajar bahasa Inggris di negeri tempat bahasa tersebut digunakan sebagai Bahasa Ibu <em>(mother language), </em>umumnya kita akan lebih cepat menguasai bahasa tersebut karena kita setiap hari dikelilingi oleh bahasa Inggris, dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur. Hal ini disebabkan karena bahasa Inggris telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Demikian pula yang harus kita lakukan di Indonesia, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan efektif: kita harus menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kehidupan kita <em>(a part of our life).</em> Artinya, kita harus mencoba menggunakannya setiap hari di mana mungkin. Untuk itu, kita bisa membaca, mendengar, ataupun berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada setiap kesempatan yang kita temui atau yang bisa kita ciptakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Misalnya, kita bisa menyisihkan waktu tiap hari untuk baca satu artikel bahasa Inggris dalam satu hari. Kalau satu artikel belum mampu, satu paragraf atau satu kalimat per hari pun tidak jadi masalah. Kita jadikan kalimat tersebut kalimat kita hari itu, dan kita gunakan kalimat tersebut dalam segala kesempatan yang mungkin ada dalam hari itu. Atau, kita bisa juga meluangkan waktu untuk mendengarkan segala sesuatu dalam bahasa Inggris (lagu, berita, atau kaset-kaset berisi pembicaraan dalam bahasa Inggris) untuk membiasakan telinga kita terhadap bahasa asing tersebut. Yang bisa kita lakukan antara lain adalah mendengarkan kaset-kaset (baik lagu, pidato, presentasi, atau kaset pembelajaran dalam bahasa Inggris) di mobil sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya. Kita juga bisa mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris (menulis memo, surat pendek, ataupun menulis rencana kerja yang akan kita lakukan selama seminggu atau untuk hari berikutnya). Pada prinsipnya, kelilingi hidup kita dengan bahasa Inggris yang topik-topiknya kita senangi atau kita butuhkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;">
<p><strong><span style="color:black;">2. Total      commitment</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;"><span> </span>Untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita, kita harus memiliki komitmen untuk melibatkan bahasa Inggris dalam hidup kita secara fisik, secara mental, dan secara emosional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Secara fisik, kita bisa mencoba mendengar, membaca, menulis, dan melatih pengucapan dalam bahasa Inggris, terus-menerus dan berulang-ulang. Secara mental atau intelektual, kita bisa mencoba berpikir dalam bahasa Inggris setiap kali kita menggunakan bahasa Inggris. </span><span style="color:black;">Misalnya, dalam memahami bahasa Inggris, jangan kata per kata, tapi arti secara keseluruhan. Kita bisa mencoba mengenali beberapa ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti yang kurang lebih sama, misalnya: How’re you?, How’s life?, How’s business? (jangan terpaku pada satu ungkapan saja). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Dan, yang paling penting adalah keterlibatan kita secara emosional dengan bahasa Inggris, yaitu kita perlu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar bahasa Inggris, dan kita perlu mencari ”hal-hal positif” yang bisa kita nikmati, ataupun yang bisa memberikan kita keuntungan jika kita mampu menguasai bahasa Inggris. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Hal-hal ini akan memberikan energi yang luar biasa pada kita untuk tetap bersemangat belajar bahasa Inggris. Ketiga aspek (fisik, mental, dan emosional) ini harus kita libatkan secara total dalam proses belajar kita, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan lebih efektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;">
<p><strong><span style="color:black;">3. Trying</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;"><span> </span>Belajar bahasa adalah seperti belajar naik sepeda atau belajar menyetir mobil. Kita tidak bisa hanya membaca dan memahami ”buku manual” saja, tetapi kita harus mencoba menggunakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Pada tahap pembelajaran (tahap percobaan), sangat wajar jika kita melakukan kesalahan. Yang penting adalah mengetahui kesalahan yang kita lakukan dan memperbaikinya di kesempatan yang berikutnya. Akan lebih baik lagi jika pada saat mencoba kita mempunyai guru yang bisa memberitahu kita kesalahan yang kita lakukan. Guru tidak harus guru formal di sekolah atau kursus bahasa Inggris. Guru bisa saja sebuah kaset yang bisa kita dengarkan dan kita bandingkan dengan ucapan kita, sebuah buku pelajaran yang bisa kita baca dan cek jawabannya, atau bisa juga kenalan, ataupun kerabat yang bisa membantu kita jika kita ada masalah atau ada hal-hal yang ingin kita tanyakan. </span><span style="color:black;">Kita tidak usah malu bertanya, dan tidak usah takut melakukan kesalahan. Dari pertanyaan yang kita ajukan dan dari kesalahan yang kita lakukan, kita bisa belajar banyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p><strong><span style="color:black;">4. Beyond class      activities</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Jika kita belajar bahasa Inggris secara formal (di kelas, di kursus), biasanya jam-jam belajarnya terbatas: empat jam seminggu, enam jam seminggu ataupun delapan jam seminggu. </span><span style="color:black;">Yang pasti jam belajar di kelas ini tentunya sangat terbatas. Agar belajar bisa lebih efektif, kita harus menciptakan kesempatan untuk ”belajar” juga di luar jam-jam belajar di kelas: berdiskusi dengan teman, mengunjungi websites yang menawarkan pembelajaran bahasa Inggris gratis, ataupun berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan teman-teman atau <em>native speakers</em> (baik melalui surat, email, ataupun percakapan langsung). Kita bisa juga mencoba membaca koran, majalah, buku-buku teks, mendengarkan radio, lagu, ataupun menonton acara-acara dan film. Agar proses belajar bisa lebih menarik, pilihlah topik-topik yang sesuai dengan minat kita, kebutuhan kita, ataupun yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang kita tekuni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong><span style="color:black;"> 5. Strategies</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Jika komitmen, keberanian mencoba, dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian hidup telah kita terapkan, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi belajar yang tepat untuk menunjang proses belajar kita. Strategi ini bisa kita kembangkan dan kita sesuaikan dengan kepribadian dan gaya belajar kita masing-masing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="color:black;">Ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan ”cue-cards”, yaitu kartu-kartu kecil yang bertuliskan ungkapan atau kata-kata yang ingin kita kuasai disertai dengan contoh kalimat yang bisa menggunakan kata-kata tersebut. Kartu ini bisa kita bawa kemana pun kita pergi. Kapan pun ada kesempatan (pada saat menunggu taksi, menunggu makan siang disajikan, ataupun pada saat berada dalam kendaran yang sedang terjebak kemacetan), kita bisa mengambil kartu ini dan membacanya serta mencoba melakukan improvisasi dengan kata-kata baru dalam struktur kalimat yang sama. Ada pula orang yang lebih mudah belajar dengan langsung berkomunikasi lisan dengan orang lain atau native speakers. Dari komunikasi ini mereka bertanya, mendengar, dan memperbaiki ucapan dan meningkatkan kosa kata mereka dengan gaya belajar kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Gaya Belajar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span> </span></span><span style="color:black;">Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="color:black;">Auditory learners</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi, ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="color:black;">Visual learners</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span style="color:black;"><span> </span>Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar ”visual”. Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. </span><span style="color:black;">Kita bisa juga membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering kita temui dalam melakukan pekerjaan kita. Untuk mencoba memahami suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual: ”flow chart”, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="color:black;">Kinesthetic learners</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span style="color:black;"><span> </span>Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse), sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut.<br />
Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar (misalnya auditory dan visual, atau visual dan kinesthetic). Apa pun gaya belajar kita, jika kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN">KESIMPULAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Berdasarkan uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa penguasaan bahasa inggris menjadi salah satu instrumen penting bagi peningkatan kompetensi pendidikan dan peningkatan standar mutu pendidikan.. Oleh sebab itu peningkatan kemampuan berbahasa inggris bagi penyelenggara pendidikan (Dosen dan Taruna) menjadi tuntutan yang harus bisa dipenuhi agar sistem pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang profesional, memilki kompetensi internasional, dan siap bersaing di pasar global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:27pt;line-height:150%;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN">Dulay, H, M Burt, dan Krashen, S. 1982. <strong><em>Language Two</em></strong>. New York : Oxford Univerity </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Press dalam Makalah Prof. Dr. Fuad Adbul Hamied, M.A</span><span lang="IN"> : BIPA, Isu danRealita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="color:black;">Sandra Sembel,. <strong><em>Education for Professionals.</em></strong> <span> </span>edpro@cbn.net.id</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Swara Ditpertais: No. 18 Th. II, 30 Oktober 2004. <strong><em>Perjalanan Kurikulum Berbasis </em></strong></span><strong><em>Kompetensi (KBK)</em></strong><strong><span style="font-weight:normal;"> : Yogyakarta</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/warungmasdidik.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/warungmasdidik.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungmasdidik.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungmasdidik.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungmasdidik.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungmasdidik.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungmasdidik.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungmasdidik.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungmasdidik.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungmasdidik.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungmasdidik.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungmasdidik.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungmasdidik.wordpress.com&blog=4139660&post=6&subd=warungmasdidik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/04/6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c54b740357e6f7d4c7716e3b0f3b9356?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Didik-AS</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PANCASILA DI TENGAH MONDIALISASI IDEOLOGI</title>
		<link>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/04/pancasila-di-tengah-mondialisasi-global/</link>
		<comments>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/04/pancasila-di-tengah-mondialisasi-global/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 08:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didik AS</dc:creator>
				<category><![CDATA[KAWULO ALIT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungmasdidik.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[PANCASILA DI TENGAH MONDIALISASI IDEOLOGI GLOBAL
(Bertahan di Tengah Pertarungan Mondialisme)
Oleh : Didik Agus Suwarsono



Negara kebangsaan kita terbentuk atas upaya besar founding fathers, yang tanpa kenal lelah memantapkan rasa kebangsaan Indonesia. Puncak dari itu semua adalah  proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang juga tonggak penetapan pancasila sebagai dasar negara sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungmasdidik.wordpress.com&blog=4139660&post=3&subd=warungmasdidik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><strong>PANCASILA DI TENGAH MONDIALISASI IDEOLOGI GLOBAL</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><strong>(Bertahan di Tengah Pertarungan Mondialisme)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><strong>Oleh : Didik Agus Suwarsono</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.5in;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Negara kebangsaan kita terbentuk atas upaya besar <em>founding fathers</em>, yang tanpa kenal lelah memantapkan rasa kebangsaan Indonesia. Puncak dari itu semua adalah <span> </span>proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang juga tonggak penetapan pancasila sebagai dasar negara sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Pancasila merupakan sublimasi dari pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang menyatukan masyarakat kita yang beragam suku, ras, bahasa, agama, pulau, menjadi bangsa yang satu, Indonesia</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Kelahiran Pancasila sebagai ideologi bangsa telah melalui proses dinamisasi sejarah. Ini tentunya sudah merupakan sebuah gambaran bahwa pada dasarnya pancasila adalah manifestasi budaya bangsa yang dalam konteks sejarah telah menjadi refleksi dan spirit tatanan masyarakat Indon<span lang="IN">e</span>sia justru jauh sebelum masuk dalam konteks kenegaraan. Ini bisa dilhat dari <em>social content</em> yang terjadi pada masyarakat kita baik yang terepresentasikan oleh dua simbol kerajaan besar yaitu Sriwijaya dan Majapahit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Berbeda dengan proses kelahirannya, upaya untuk &#8220;membumikan&#8221; Pancasila di tengah bangsa Indonesia ternyata banyak menghadapi tantangan dan cobaan. Tantangan terhadap Pancasila sudah mulai tampak sejak masa-masa awal bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Tantangan terhadap eksistensi Pancasila tidak hanya bersifat internal tetapi juga bersifat eksternal. Berpijak pada realitas adanya berbagai tantangan dan ancaman terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa sejak masa-masa awal kelahirannya, bisa dipastikan bahwa tantangan dan ancaman terhadap Pancasila akan terus berlangsung. Untuk itu, mau tidak mau, apabila Pancasila ingin tetap eksis di bumi Nusantara ini perlu selalu dipersiapkan jawaban <em>(respons)</em> yang tepat atas berbagai tantangan <em>(challenge) </em>yang tengah dan akan terjadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Realitas kontemporer memperlihatkan bahwa tantangan terhadap ideologi Pancasila, baik kini maupun nanti, beberapa di antaranya telah tampak di permukaan. Tantangan dari dalam di antaranya, terjadinya berbagai gerakan separatis yang hendak memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apa yang terjadi di Aceh, Maluku, dan Papua merupakan sebagian contoh di dalamnya. Penanganan yang tidak tepat dan tegas dalam menghadapi gerakan-gerakan tersebut akan menjadi ancaman serius bagi tetap eksisnya Pancasila di bumi Indonesia. Bahkan, bisa jadi akan mengakibatkan Indonesia tinggal sebuah nama sebagaimana halnya negara Yugoslavia dan Uni Soviet.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Tidak kalah seriusnya dengan tantangan dari dalam, Pancasila juga kini tengah dihadapkan dengan tantangan eskternal berskala besar berupa mondialisasi atau globalisasi. Globalisasi yang berbasiskan pada perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi, secara drastis telah mentransendensikan batas-batas etnis bahkan bangsa. Jadilah Indonesia kini, tanpa bisa dihindari dan menghindari, menjadi bagian dari arus besar berbagai perubahan yang terjadi di dunia. Sekecil apa pun perubahan yang terjadi di belahan dunia lain akan langsung diketahui atau bahkan dirasakan akibatnya oleh Indonesia. Sebaliknya, sekecil apa pun peristiwa yang terjadi di Indonesia secara cepat akan menjadi bagian dari konsumsi informasi masyarakat dunia. <span lang="SV">Pengaruh dari globalisasi ini dengan demikian begitu cepat dan mendalam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span lang="SV">Menjadi sebuah petanyaan besar bagi bangsa Indonesia, sanggupkah Pancasila menjawab berbagai tantangan tersebut? Akankah Pancasila tetap eksis sebagai ideologi bangsa? Jawabannya tentu akan terpulang kepada bangsa Indonesia sendiri sebagai pemilik Pancasila. Namun demikian, kalaulah kemudian bangsa Indonesia mencoba untuk mencari jawabannya atas berbagai tantangan tersebut maka jawabannya adalah bahwa Pancasila akan sanggup menghadapi berbagai tantangan tersebut asalkan Pancasila benar-benar mampu diaplikasikan sebagai jiwa bangsa Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span lang="SV">Implikasi dari dijadikannya Pancasila sebagai pandangan hidup maka bangsa yang besar ini haruslah mempunyai <em>sense of belonging </em>dan <em>sense of pride </em>atas Pancasila. Untuk menumbuhkembangkan kedua rasa tersebut maka melihat realitas yang tengah berkembang saat ini setidaknya dua hal mendasar perlu dilakukan. <em>Pertama</em>, penanaman kembali kesadaran bangsa tentang eksistensi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Penanaman kesadaran tentang keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa mengandung pemahaman tentang adanya suatu proses pembangunan kembali kesadaran akan Pancasila sebagai identitas nasional. Upaya ini memiliki makna strategis manakala realitas menunjukkan bahwa dalam batas-batas tertentu telah terjadi proses pemudaran kesadaran tentang keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Salah satu langkah terbaik untuk mendekatkan kembali atau membumikan kembali Pancasila ke tengah rakyat Indonesia tidak lain adalah melalui pembangunan kesadaran sejarah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><em><span lang="SV">Kedua,</span></em><span lang="SV"> perlu adanya kekonsistenan dari seluruh elemen bangsa, khususnya para pemimpin negeri ini untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak. Jangan sampai Pancasila ini hanya sekadar wacana di atas mulut saja yang disampaikan secara berbusa-busa hingga menjadi basi sementara di lapangan penuh dengan perilaku hipokrit. Dengan demikian, penghayatan dan pengamalan sila-sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sudah merupakan suatu kesadarn moral bagi tetap tegaknya Pancasila sebagai ideologi bangsa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span lang="SV">Pada akhirnya, menjadi baik kiranya bila menyimak kembali apa yang pernah dikatakan oleh Roeslan Abdulgani (1986), &#8220;Pancasila kita bukan sekadar berintikan nilai-nilai statis, tetapi juga jiwa dinamis. Tiada gunanya kita, hanya secara verbal mencintai kemerdekaan, kalau kita tidak berani melawan penjajahan, baik yang tradisional-kuno maupun yang neokolonial. Tiada gunanya kita, secara verbal saja menjunjung tinggi sila Ketuhanan Yang Maha Esa, kalau kita takut melawan kemusyrikan. Tiada <span> </span>guna kita, secara verbal saja mengagungkan sila Perikemanusiaan, kalau kita membiarkan merajalelanya situasi yang tidak manusiawi. Tiada faedahnya kita, jika secara verbal saja kita mencintai Persatuan Indonesia, kalau kita membiarkan merajalelanya rasa nasionalisme dan patriotisme merosot dan membiarkan bangsa lain mengeksploitasikan kebodohan dan kelemahan rakyat kita. </span><span lang="FI">Tak ada manfaatnya,<span> </span>jika kita cinta akan sila Kerakyatan tetapi kita membiarkan keluhan rakyat tersumbat. Kurang artinya bila kita ngobrol saja tentang sila Keadilan Sosial, kalau kita sendiri membiarkan kepincangan sosial ekonomis merajalela.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/warungmasdidik.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/warungmasdidik.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/warungmasdidik.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/warungmasdidik.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/warungmasdidik.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/warungmasdidik.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/warungmasdidik.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/warungmasdidik.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/warungmasdidik.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/warungmasdidik.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/warungmasdidik.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/warungmasdidik.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=warungmasdidik.wordpress.com&blog=4139660&post=3&subd=warungmasdidik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungmasdidik.wordpress.com/2008/07/04/pancasila-di-tengah-mondialisasi-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c54b740357e6f7d4c7716e3b0f3b9356?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Didik-AS</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>